PROSEDUR PENANGANAN PENDERITA SHOCK

Share :


PROSEDUR PENANGANAN PENDERITA SHOCK
Definisi
Shock adalah suatu syndroma klinis yang ditandai dengan adanya hipotensi, tacycardia, kulit yang dingin, pucat basah, hiperventilasi, perubahan status mental, penurunan produksi urine
Prosedur
PERSIAPAN
Alat :
Tensimeter
Disposable spuit
Kanula vena
Infusion set
Tabung oksigen beserta regulator dan flowmeter
Nasala prong atau masker beserta slang
Ambu bag
Obat ;
Adrenaline
Obat-obat simpatomimetik seperti : Ephedrine, Dopamin
Anti histamin : Delladryl
Corticosteroid
Cairan kristaloid : RL, PZ
Cairan koloid : Dextran, Expafusin

PENATALAKSANAAN
- Baringkan penderita dalam posisi shock yakni tidur terlentang dengan
tungkai lebih tinggi dari kepala pada alas yang keras
- Bebaskan jalan nafas
- Monitor pernafasan dan hemodinamika
- Berikan suplemen oksigen
- Berikan cairan infus dengan berpedoman pada :
Kadar hematokrit
Besarnya defisit cairan
Tipe defisit isotonic/ hipotonik/hipertonik.
Kausa shock.
- Monitor hemodinamika dan pernafasan
- Perawatan lanjutan/kausatif dilakukan bergantung pada kausanya
- Bila tidak membaik rujuk ke intitusi yang lebih tinggi

Ø Rumus Hematocrit adalah :
Hct : RBCV / TBV : RBCV /( PV + RBCV )
Dimana :
Hct : hematocrit TBV : total blood volume
RBCV : red blood cell volume PV : plasma volume

Ø Terapi Cairan pada Kegawatan Anak



CATATAN :
1. Kebutuhan rumatan dalam 24 jam
Berat Badan---- Kebutuhan
<> 20 kg -------1500cc+20cc/kg BB setiap kg kenaikan BB diatas 20 kg
11 – 20 kg -----1000cc+50cc/kg BB setiap kg kenaikan BB diatas 10 kg
> 20 kg ---------1000cc+20cc/kg BB setiap kg kenaikan BB diatas 20 kg
2. Cairan yang diberikan untuk :
Hipernatremia adalah D5 in 0,2 % Saline
Ketoasidosis Diabetik adalah cairan garam fisiologis 0,9 % Saline
3. Na Replacement :
Penggantian Na ekstraseluler yang hilang sebaiknya tidak diganti seluruhnya, cukup 2/3 dari defisit Na.
Kebutuhan Natrium = 0,6 x BB x delta Na
delta Na : selisih antara kadar Natrium serum yang diinginkan dan kadar Natium hasil pemeriksaan.
4. Koreksi Kalium :
Pemberian Kalium, kalau tidak ada tanda-tanda klinis kekurangan kalium sebaiknya ditunda sampai ada produksi urine.
Koreksi kekurangan kalium sebaiknya diberikan dalam periode 3 – 4 hari, dengan kecepatan pemberian tidak boleh lebih dari 3 mEq / kg BB/24 jam.

Kebutuhan Kalium = 0,4 x BB x delta K

delta K : selisih antara kadar Kalium serum yang diinginkan dengan kadar Kalium hasil pemeriksaan.

Beberapa keadaan gawat darurat yang membutuhkan terapi cairan pada anak :
1. Dehidrasi
Merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama dan paling sering disebabkan oleh karena diare.
Pengobatan adalah dengan penggantian cairan sesuai yang hilang.
2. Hipernatremia
Paling sering disebabkan oleh disre dengan kehilangan air lebih banyak dari solute atau karena sebab-sebab lain seperti high solute load atau pada penyakit-penyakit ginjal dimana terjadi gangguan fungsi konsentrasi urine.

Pengobatan :
1. Terapi shock dengan RL atau garam fisiologis (PZ) 20 ml/kg BB
2. Penggantian defisit dan pemberian cairan rumatan yang diberikan dalam 48 jam. Cairan yang diberikan adalah cairan renfah Na yaitu D5 in 0,2 % Saline.
Kecepatan pemberian Natrium sebaiknya sekitar 0,5 – 1 mEq/l/jam.
Contoh :
Bayi 10 bulan, berat badan 10 kg dengan dehidrasi berat dan shock, maka cairan yang diberikan adalah :
Terapi shock 200 ml diberikan dalam ½ - 1 jam, dilanjutkan
Terapi defisit (80 ml x 10 kg) + Terapi rumatan dalam 48 (2 x 24) jam (100 ml x 10kg x 2) = 2800 ml yang diberikan dalam 48 jam.
Kalau sarana memungkinkan lakukan pemantauan kadar natrium darah setiap 2 – 4 jam.
Terapi terhadap penyebab hipernatremia.
3. Diabetik Ketoasidosis
Ketoasidosis diabetik merupakan penyebab utama kematian pada anak dengan diabetes.
Pada ketoasidosis diabetik didapatkan hiperglikemia, ketoasidosis (didapatkan keton bodies dalam darah), gangguan kesadaran dan didapatkan keadaan hiperosmolar.
Tujuan pengobatan cairan adalah mengatasi gangguan hemodinamik dan memberikan terapi rumatan dan terapi defisit yang diberikan secara pelan-pelan yaitu dalam 36 – 48 jam supaya tidak terjadi perubahan osmolaritas yang terlalu cepat.
a. Terapi shock : RL / PZ 20 ml/kg BB
b. Terapi rumatan dan terapi defisit diberikan dalam 36 – 48 jam. Cairan yang diberikan adalah cairan isotonic tanpa glukosa yaitu garam fisiologis 0,9 % Saline + 30 – 40 mEq Kalium.
Jangan memberikan cairan hipotonik, sebab dapat menyebabkan oedema otak. Cairan yang mengandung glukosa (D5) bisa diberikan bila kadar gula darah sudah mencapai 200 – 300 mg%.
c. Terapi Insulin 0,05 – 0,1 U/kg BB bolus dilanjutkan 0,1 U/kg BB/jam. Dosis disesuaikan tergantung respon dan kadar glukosa darah.
d. Koreksi asidosis sebaiknya dilakukan hanya bila didapatkan asidosis berat dan diberikan dalam dosis kecil dan pelan-pelan. (0,5 – 1 mEq/ kg BB) dalam 10 menit.

4. Luka Bakar
Pada luka bakar tejadi kerusakan permeabilitas pembuluh darah yang terjadi dengan cepat. Kerusakan integritas pembuluh darah ini tidak segera kembali dalam 8 – 12 jam sesudah luka bakar, sehingga disini trjadi keluarnya cairan/plasma dari pembuluh darah yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan sirkulasi
Pada luka bakar juga terjadi hemolisis, sehingga bisa terjadi anemia dalam 4 – 7 hari pada luka bakar yang berat.
Tujuan terapi cairan dalam 24 jam pertama dari luka bakar adalah :
a. Untuk memperbaiki homeostasis cairan dan elektrolit
b. Mengurangi kerusakan fungsi organ dan terjadinya oedema.
1. Terapi pertama adalah mengatasi shock : RL / PZ 20 ml/kg BB, dilanjutkan
2. Terapi rumatan dan defisit yang diberikan dalam 48 jam.

Carvajal menghitung kebutuhan cairan dalam 24 jam pertama adalah :
Ø 2000 ml/m2/24 jam + 5000 ml/m2 luka bakar/24 jam.
Ø 50 % diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Contoh :
Seorang anak laki-laki 4 th dengan luas permukaan tubuh 0,68 m2 dan luka bakar 40 %, maka kebutuhan cairan dalam 24 jam pertama adalah :
2000 x 0,68 / 24 jam + 5000 x 40 % x 0,68 / 24 jam = 2720 ml / 24 jam.
8 jam pertama dibe erikan 1360 ml
16 jam berikutnya diberikan 1360 ml
Cairan yang diberikan adalah cairan isotonic yang mengandung albumin, laktat, bikarbonat, dan karbohidrat. ( RL + Dextran ).

Referensi
1. Advanced Trauma Life Support Program Untuk Dokter, Cedera Kepala, Committee on Trauma American College of Surgeons, Terjemahan Komisi Trauma IKABI, 1997
2. Sutrisno Alibasjah, Trauma Abdomen, Kumpulan Makalah Pelatihan PPGD Bagi Dokter, JICA, RSUD Dr. Soetomo, Dinkesda Tk.I Jatim, 1999
3. A Latief Azis. Terapi Cairan Pada Kegawatan Anak, Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak No. 26, Surabaya. 1997.


PROSEDUR PENANGANAN PENDERITA SHOCK 9 out of 10 based on 327 ratings. 327 user reviews.

0 komentar:

Poskan Komentar