MANAJEMEN LAKTASI

A). Anatomi Payudara
Agar memahami tentang manajemen laktasi perlu terlebih dahulu memahami anatomi payudara dan fisiologi laktasi.
Dibedakan menurut struktur internal dan struktur external :
Struktur internal payudara terdiri dari : kulit, jaringan dibawah kulit dan korpus. Korpus terdiri dari : parenkim atau jaringan kelenjar dan stroma atau jaringan penunjang. Parenkim merupakan struktur yang terdiri dari :
  1. Saluran kelenjar : duktulus, duktus dan sinus laktiferus. Sinus laktiferus yaitu duktus yang melebar tempat ASI mengumpul (reservoir ASI), selanjutnya saluran mengecil dan bermuara pada puting. Ada 15-25 sinus laktiferus.
  2. Alveoli yang terdiri dari sel kelenjar yang memproduksi ASI.
Tiap duktus bercabang menjadi duktulus, tiap duktulus bercabang menjadi alveolus yang semuanya merupakan satu kesatuan kelenjar. Duktus membentuk lobus sedangkan duktus dan alveolus membentuk lobulus. Sinus duktus dan alveolus dilapisi epitel otot (myoepithel) yang dapat berkontraksi. Alveolus juga dikelilingi pembuluh darah yang membawa zat gizi kepada sel kelenjar untuk diproses sintesis menjadi ASI.
Stroma terdiri dari : jaringan ikat, jaringan lemak, pembuluh darah syaraf dan lymfa.
Struktur External payudara terdiri dari : puting dan areola yaitu bagian lebih hitam sekitar puting pada areola terdapat beberapa kelenjar montgomery yang mengeluarkan cairan untuk membuat puting lunak dan lentur ( Depkes RI, 2005)
B). Fisiologi Laktasi

Pada masa hamil, terjadi perubahan pada payudara, dimana ukuran payudara bertambah basar. Ini disebabkan proliferasi sel duktus laktiferus dan sel kelenjar pembuat ASI. Karena pengaruh hormon yang dibuat plasenta yaitu laktogen, prolaktin koriogonadotropin, estrogen dan progesteron. Pembesaran juga disebabkan oleh bertambanya pembuluh darah. Pada kehamilan lima bulan atau lebih, kadang-kadang dari ujung puting mulai keluar cairan yang disebut kolostrum. Sekresi cairan tersebut karena pengaruh hormon laktogen dari plasenta dan hormon prolaktin dari kelenjar hipofise. Produksi cairan tidak berlebihan karena meski selama hamil kadar prolaktin cukup tinggi pengaruhnya dihambat oleh estrogen. Setelah persalinan, dengan terlapasnya plasenta, kadar estrogen dan progesteron menurun, sedangkan prolaktin tetap tinggi. Karena tak ada hambatan oleh estrogen maka terjadi sekresi ASI. Pada saat mulai menyusui, maka dengan segera, rangsangan isapan bayi memacu lepasnya prolaktin dan hipofise yang memperlancar sekresi ASI( Depkes, 2005).
C). Komposisi ASI

Komposisi ASI sedemikian khususnya, sehingga komposisi ASI dari satu ibu dan ibu lainya berbeda. Pada kenyataanya komposisi ASI tidak tetap dan tidak sama dari waktu ke waktu dan disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Jenis-jenis ASI sesuai perkembangan bayi.


Langkah-langkah kegiatan Menejemen Laktasi menurut Depkes RI (2005) adalah :

a). Masa Kehamilan (Antenatal).
  1. Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi mengenai manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui bagi ibu, bayi dan keluarga serta cara pelaksanaan management laktasi.
  2. Menyakinkan ibu hamil agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya.
  3. Melakukan pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara. Disamping itu, perlu pula dipantau kenaikan berat badan ibu hamil selama kehamilan.
  4. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan sehari-hari termasuk mencegah kekurangan zat besi. Jumlah makanan sehari-hari perlu ditambah mulai kehamilan trimester ke-2 (minggu ke 13-26) menjadi 1-2 kali porsi dari jumlah makanan pada saat sebelum hamil untuk kebutuhan gizi ibu hamil.
  5. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Penting pula perhatian keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya bahwa kehamilan merupakan anugerah dan tugas yang mulia.

b). Saat segera setelah bayi lahir.

  1. Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar mulai kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai menyusui bayi. Karena saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan, selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu secara naluriah.
  2. Membantu kontak langsung ibu-bayi sedini mungkin untuk memberikan rasa aman dan kehangatan.

c). Masa Neonetus


  1. Bayi hanya diberi ASI saja atau ASI Eksklusif tanpa diberi minum apapun.
  2. Ibu selalu dekat dengan bayi atau di rawat gabung.
  3. Menyusui tanpa dijadwal atau setiap kali bayi meminta (on demand).
  4. Melaksanakan cara menyusui (meletakan dan melekatkan) yang baik dan benar.
  5. Bila bayi terpaksa dipisah dari ibu karena indikasi medik, bayi harus tetap mendapat ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan agar produksi ASI tetap lancar.
  6. Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) dalam waktu kurang dari 30 hari setelah melahirkan.

d). Masa menyusui selanjutnya (post neonatal).

  1. Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan atau minuman lainnya.
  2. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui sehari-hari. Ibu menyusui perlu makan 1½ kali lebih banyak dari biasanya (4-6 piring) dan minum minimal 10 gelas sehari.
  3. Cukup istirahat (tidur siang/berbaring 1-2 jam), menjaga ketenangan pikiran dan menghindari kelelahan fisik yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
  4. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
  5. Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau menyusu, puting lecet, dll ).
  6. Memperhatikan kecukupan gizi makanan bayi, terutama setelah bayi berumur 6 bulan; selain ASI, berikan MP-ASI yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya secara bertahap.

PATHWAY HIPERTENSI

Dalam Asuhan Keperawatan Hipertensi gambaran Proses terjadinya berbagai masalah keperawatan Pada pasien Hipertensi dapat di lihat pada gambar dibawah ini : (Klik pada gambar di bawah untuk memperjelas gambar)
Pathway hipertensi, pathways hipertensi,Pathway keperawatan hipertensi, patoflow hipertensi,
Sedang untuk askep hipertensi silahkan menuju link ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI 

Tags : Pathway hipertensi, pathways hipertensi,Pathway keperawatan hipertensi, patoflow hipertensi,

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL / PMS (2)

Image from abcnews.go.com
Lanjutan PENYAKIT MENULAR SEKSUAL / PMS (1) 

3. Herpes genital
Penyakit Herpes Genital disebabkan oleh virus herpes simpleks dengan masa inkubasi 4 sampai 7 hari setelah virus menginfeksi tubuh melalui hubungan seks.
Gejala dan tanda-tandanya adalah :
Bintil-bintil berisi air (membentuk kelompok seperti anggur) yang terasa nyeri/sakit pada daerah sekitar alat kelamin.
Bintil tersebut kemudian pecah sehingga menimbulkan luka yang kering mengerak, kemudian hilang dengan sendirinya.
Gejala akan muncul kembali seperti diatas tetapi keluhan nyeri tidak seperti pada saat infeksi awal
Pada wanita sering berlanjut menjadi kanker mulut rahim pada beberapa tahun kemudian, penyakit ini belum di temukan obat yang dapat menyembuhkan secara tuntas, tetapi pengobatan dengan anti virus dapat mengurangi rasa sakit dan menurunkan lamanya episode penyakit.

4. Klamidia
Klamidia disebabkan oleh Chlamydia Trachomatis dengan masa tanpa adanya gejala sekitar 7 sampai 21 hari. Gejala klamidia yaitu muncul radang pada alat reproduksi laki-laki dan wanita. Pada wanita gejalanya bisa berupa :
  • Keluar cairan pada alat kelamin/ keputihan berbentuk encer dengan warna putih kekuningan.
  • Rongga panggul terasa nyeri
  • Terjadi perdarahan sesaat setelah melakukan hubungan seksual
Gejala pada laki-laki :
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Adanya cairan bening yang keluar dari saluran kencing
  • Jika terjadi infeksi yang berlanjut akan sering keluar cairan dan bercampur dengan darah
Kadang kadang gejala tidak nampak gejala sama sekali walaupun proses infeksi sedang terjadi. Hal tersebut menyebabkan penderita tidak menyadari dalam keadaan terinfeksi penyakit klamidia dan tanpa di sadari dapat menularkannya kepada pasangannya saat melakukan hubungan seksual.
Pada perempuan yang terinfeksi klamidia akan menimbulkan kecacatan pada saluran telur dan kemandulan, peradangan pada saluran kencing, terjadi robek pada selaput ketuban sehingga menimbulkan kelahiran bayi sebelum waktunya (prematur). Sedangkan pada laki-laki mengakibatkan kerusakan saluran sperma dan mengakibatkan kemandulan, serta peradangan saluran kencing. Sekitar 60% sampai 70% bayai yang terinfeksi klamidia akan mengalami infeksi pada mata dan atau infeksi saluran pernapasan (pneumonia)

5. Kutil Kelamin ( Genital warts)
Kutil Kelamin disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV), dengan gejala yang khas yaitu adanyat satu atau beberapa kutil disekitar alat kelamin. Infeksi pada perempuan dapat mengenai kulit disekitar alat kelamin sampai dubur, selaput lendir bagian dalam, vagina hingga leher rahim. Pada wanita hamil, pertumbuhan kutil dapat menjadi lebih besar. Infeksi Kutil kelamin bisa menjadi pencetus timbulnya kanker leher rahim atau kanker kulit disekitar kelamin. Kutil kelamin pada laki-laki terdapat pada alat kelamin dan bagian dalam saluran kencing (uretra). Infeksi kutil ini bisa saja tidak di sadari karena terkadang tidak terlihat tetapi dapat menularkan penyakitnya kepada pasangannya. Pengobatan yang dilakukan pada penyakit kutil ini belum mampu secara tuntas menyembuhan.

6. HIV/AIDS
AIDS (Aquired Immune Deciency System) adalah kumpulan gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi akibat infeksi virus HIV (Humman Immuno Deficiency Virus). HIV/AIDS termasuk dalam PMS, karena salah satu cara penularannya dengan hubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi virus HIV.
Cara penularan HIV/AIDS :
Karena virus HIV terdapat pada seluruh cairan tubuh manusia (sperma, darah dan cairan vagina dll).
Sehingga penyakit ini dapat di tularkandengan cara sebagai berikut :
  • Berhubungan seksual dengan orang yang positif terinfeksi virus HIV.
  • Menggunakan jarum suntik bekas orang yang terinfeksi virus HIV.
  • Lewat Transfusi darah yang telah tercemar HIV.
  • Ibu hamil yang terinfeksi virus HIV meneluarkannya kebayinya
Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
  • Laki-laki homoseksual atau biseks.
  • Orang yang ketagian obat intravena
  • Partner seks dari penderita AIDS
  • Penerima tranfusi darah atau produk darah
  • Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita.


Tags : PMS, Herpes pada kelamin, Kutil pada kelamin, HIV/AIDS, nyeri saat kencing,

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL / PMS (1)

Image from abcnews.go.com
1. Gonore (GO)
Gonore (nama lainnya : GO, Kencing Nanah, Uretritis Spesifik ) disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae. Masa inkubasi penyakit ini 2 sampai 10 hari setelah kuman menginfeksi tubuh penderita melalui hubungan seks.
Diagnosis Gonore dapat di tegakkan dengan kultur atau “smear” dari organ tubuh yang terinfeksi. Penderita yang terinfeksi kuman Neisseria gonorrhoeae atau Gonore harus mendapatkan pengobatan dan dianggap akan mampu untuk menularkan penyakitnya sampai gejala penyakitnya menghilang. Dengan tidak diobati atau dengan pengobatan yang tidak sampai sembuh, Infeksi Gonore dapat berkembang pada organ-organ reproduksi, yang dapat mengakibatkan terjadinya arut pada jaringan organ reproduksi dan akhirnya akan menyebabkann sterilitas menetap atau permanen.
Tanda dari penyakit ini (gonore) yaitu adanya nyeri, berwarna merah, timbul bengkak dan bernanah. Gejala gonore pada laki -laki yaitu adanya rasa nyeri atau sakit pada saat buang air kecil / kencing, adanya nanah kental kuning kehijauan, pada ujung penis tampak berwarna merah dan sedikit bengkak. Pada wanita 60% kasus sama sekali tidak nampak gejala. Tetapi terkadang ada rasa nyeri / sakit saat buang air kecil / kencing dan penderita mengalami keputihan kental dengan warna kekuningan.
Akibat yang di timbulkan dari gonore pada laki-laki dan wanita adalah kemandulan. Pada wanita bisa juga mengalami peradangan pada panggul, dan infeksi dapat menular pada bayi yang di lahirkan oleh wanita penderita berupa infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan pada si bayi. Pengobatan mata pada bayi baru lahir secara rutin dengan menggunakan salep antibiotik harus di lakukan untuk mencegah teerjadinya infeksi ini.

2. Sifilis (Raja Singa)
Sifilis disebabkan oleh kuman Treponema Pallidum. Masa tanpa gejala berlangsung 3 sampai 4 minggu, dan terkadang juga bisa sampai 13 minggu. Setelah itu muncul benjolan disekitar alat kelamin. Penyakit ini juga kadang-kadang dengan keluhan sakit kepala/pusing dan nyeri pada tulang seperti pada influensa yang sembuh tanpa diobati. Terdapat bercak berwarna kemerahan pada tubuh sekitar 6 sampai 12 minggu setelah hubungan seks dengan penderita yang terinfeksi. Bercak tersebut ini akan hilang sendiri dan kebanyakan penderita tidak memperhatikan adanya gejala ini. Pada 2 sampai 3 tahun pertama penyakit ini sama sekali tidak memunculkan gejala apa-apa, yang biasa disebut masa laten. Tetapi setelah 5 sampai 10 tahun penyakit sifilis akan menyebabkan kerusakan susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung penderita. Pada wanita yang hamil sifilis dapat menularkan penyakitnya pada bayi yang dikandungnya dan bayi yang di lahirkan dapat mengalami kerusakan pada kulit, hati, limpa dan keterbelakangan mental.

Selanjutnya Baca PENYAKIT MENULAR SEKSUAL / PMS (2)

Tags : Penyakit seksual, Penyakit hubungan seks, Gonore, GO, Kencing Nanah, Gonorrhoe, Gejala Gonore, Gejala Gonore, gejala kencing nanah, Keluhan Gonore, Gejala sifilis, bahaya gonore, Sifilis, Raja Singa, bahaya sifilis, keluhan sifilis, Kemandulan akibat gonore, kemandulan akibat sifilis.

PATHWAY VESIKOLITHIASIS

Proses terjadinya berbagai masalah keperawatan Pada pasien Vesikolithiasis dapat digambarkan pada gambar di bawah ini : (Klik pada gambar di bawah untuk memperjelas gambar)
Pathway Vesikolithiasis, Pathways Vesikolithiasis, Vesicolithiasis, Pathway Batu Buli, Pathway Batu Vesika Urinaria, Pathway Keperawatan Vesikolithiasis, Pathway Batu Kandung Kemih

ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITHIASIS

Tags : Pathway Vesikolithiasis,Pathway Vesikolitiasis, Pathways Vesikolithiasis, Vesicolithiasis, Pathway Batu Buli, Pathway Batu Vesika Urinaria, Pathway Keperawatan Vesikolithiasis, Pathway Batu Kandung Kemih

PERILAKU KEKERASAN

Apa itu perilaku Kekerasan ?
  1. Menurut Maramis , 2005 Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan yang dapat timbul secara mendadak atau didahului tindakan ritualistik atau meditasi pada seseorang (pria) yang masuk dalam suatu kesadaran yang menurun atau perkabut (Trance Like State) tanpa dasar epilepsi
  2. Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Depkes RI, 2000, p. 147).
  3. Perilaku kekerasan merupakan kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali baik secara verbal maupun tindakan dengan mencederai diri, orang lain dan merusak lingkungan (Depkes RI, 2007 p. 76).
  4. Resiko terhadap tindak kekerasan adalah keadaan dimana individu melakukan atau menyerang orang atau lingkungan (Carpenito 2000, p. 1433).
  5. Resiko menciderai diri yaitu suatu kegiatan yang dapat menimbulkan kematian baik secara langsung maupun tidak langsung yang sebenarnya dapat dicegah (Depkes RI, 2000, p. 192).
  6. Resiko menciderai diri adalah suatu risiko perbuatan dimana seseorang berperilaku pada dirinya dapat berupa fisik, emosi dan atau perbuatan seks yang berbahaya pada dirinya (Nanda, 2005, p. 203).

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku kekerasan yaitu suatu tindakan kekerasan yang dinyatakan baik verbal maupun non verbal yang ditujukan pada diri sendiri atau orang lain.

Rentang respon Marah?
Rentang respon marah menurut Keliat (2005, p. 21)


Dari rentang respon marah dapat berbentuk adaptif dan maladaptif
a. Asertif
Kemarahan yang diungkap pada orang lain dengan kata-kata yang tidak menyinggung sehingga memberikan kelegaan dan tidak menimbulkan masalah baru.
b. Frustasi
Respon yang terjadi akibat individu gagal mencapai tujuan karena tujuan tidak realistis atau hambatan dalam proses keinginan.
c. Pasif
Merupakan perilaku dimana seseorang merasa tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya sebagai (usaha untuk mempertahankan hak-haknya)
d. Agresif
Perilaku yang menyertai rasa marah dan merupakan dorongan mental untuk bertindak (dapat konstruktif atau destruktif) dan masih terkontrol.
e. Perilaku kekerasan
Merupakan respon terhadap kemarahan yang maladaptif ditandai dengan perasaan marah meluap-luap dan hostilitas yang kuat disertai hilangnya kontrol diri yang dapat merusak diri, orang lain dan lingkungan.

Apa Penyebab Perilaku Kekerasan ?
Menurut Depkes RI (2002, p. 149) :
1. Faktor Predisposisi / Pendukung
Faktor-faktor yang mendukung terjadinya masalah perilaku kekerasan adalah faktor biologis, psikologis dan sosiokultural.
a. Faktor Biologis
  • Instinctual drive theory (teori dorongan naluri). Teori ini menyatakan bahwa perilaku kekerasan disebabkan oleh suatu dorongan kebutuhan dasar yang sangat kuat.
  • Pyschomatis theory (teori psikomatik pengalaman marah). Adalah akibat respon psikologis terhadap stimulus eksternal, internal maupun lingkungan dalam hal ini sistem limbik berperan sebagai pusat untuk mengekspresikan maupun menghambat rasa marah.
b. Faktor Psikologis
1) Frustration Aggression theory (teori agresif frustasi)
Menurut teori ini perilaku kekerasan terjadi sebagai hasil dari akumulasi frustasi. Frustasi terjadi apabila keinginan individu untuk mencapai sesuatu yang gagal/terhambat. Keadaan tersebut dapat mendorong individu berperilau agresif karena perasaan frustasi akan berurang melalui perilaku kekerasan.
2) Behavioral theory (teori perilaku)
Kemarahan adalah proses belajar. Hal ini dapat dicapai apabila tersedia fasilitas/situasi yang mendukung.
3) Exstensial theory (teori eksistensi)
Bertingkah laku adalah kebutuhan dasar manusia, apabila kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi melalui berperilaku konstruktif, maka individu akan memenuhinya melalui berperilaku dekstruktif.
c. Faktor Sosial Kultural
1) “Social environment theory” (teori lingkungan sosial)
Lingkungan sosial akan mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan marah.
2) “Sosial learning theory” (teori belajar sosial)
Perilaku kekerasan dapat dipelajari secara langsung maupun melalui proses sosialisasi.
2. Faktor Prespitasi / Pencetus
Stresor yang mencetuskan perilaku kekerasan bagi setiap individu bersifat unik. Stresor tersebut dapat disebabkan dari luar maupun dari dalam. Contoh stressor dari luar antara lain serangan fisik, kehilangan, kematian dan lain-lain. Sedangkan stresor yang berasal dari dalam adalah putus hubungan dengan orang yang berarti, kehilangan rasa cinta, ketakutan terhadap penyakit fisik dan lain-lain. Selain itu lingkungan yang terlalu ribut, padat kritikan yang mengarah pada penghinaan, tindakan kekerasan dapat memicu perilaku kekerasan.
3. Mekanisme koping
(Menurut Depkes RI 2000 : 152)
  • Represi : Menekan perasaan/pengalaman yang menyakitkan/konflik/ingatan dari kesadaran yang cenderung memerkuat mekanisme ego lainnya.
  • Supresi : Menekan erasaan/pengalaman yang menyakitkan dinginkannya sebagaimana yang pernah dikomunikasikan sebelumnya.
  • Deniel : Perilaku menolak realitas yang terjadi pada dirinya dengan berusaha mengatakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
  • Displacement : Mengalihkan emosi yang diarahkan pada benda/objek yang kurang tidak berdaya.
4. Perilaku
(Menurut Depkes RI 2002: 153)
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
a. Menyerang / menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom bereasi terhadap sekresi ehineprin yang menyebaban tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, mual, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urin dan saliva meningkat.
b. Menyatakan secara asertive (assertivenes)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif, dan asertif.
c. Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya disertai kekerasan akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian orang lain.
d. Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasaan / anak yang ditunjukkan pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Apa Gejala Atau Keluan Dari perilaku Kekerasan ?
Gambaran Perilaku kekerasan menurut Keliat, (2005, p. 27) adalah sebagai berikut :
  • Tanda-tanda yang menyertai marah yaitu : Muka merah, bicara kasar, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat, klien sering memaksakan kehendak merampas makanan, memukul jika tidak senang.
  • Gejala yang muncul : Stress, mengungkapkan secara verbal, menuntut, menentang.
Gambaran Perilaku kekerasan menurut Akemat (2004, p. 45) adalah sebagai berikut :
1. Dimensi emosi
Tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam), jengkel, merasa kuat.
2. Dimensi fisik
Muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat, sakit fisik, penyalahgunaan obat, TD meningkat.
3. Dimensi intelektual
Mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan
4. Dimensi Spiritual
Kemahakuasaan, Kebijakan/kebenaran diri, keraguan, tidak bermoral, kebejatan, kreatifitas terhambat.
5. Dimensi sosial
Menarik diri, Pengasingan, Agitasi, Penolaan, Kekerasan, Ejekan, Humor



Kepustakaan :
  1. Akemat. (2004). Pelatihan Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Jiwa. Semarang : RSJ dr. Amino gondo hutomo.
  2. Carpenito. L. J. ( 2000 ). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. (terjemahan). Jakarta : EGC.
  3. Carpenito. L.J. (1998). Diagnosa Keperawatan : Aplikasi Pada Praktik Klinik, Jakarta : EGC.
  4. Depkes RI. ( 2000 ). Buku Pedoman Pelaksanaan Model Praktik Keperawatan
  5. Profesional (MPKP). Magelang : RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
  6. Depkes RI. ( 2002 ). Buku Pedoman Pelaksanaan Model Praktik Keperawatan
  7. Profesional (MPKP). Magelang : RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
  8. Depkes RI. ( 2003 ) Buku Pedoman Pelaksanaan Model Praktik Keperawatan
  9. Profesional (MPKP). Magelang : RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
  10. Depkes RI. ( 2007 ). Standart Asuhan Keperawatan Jiwa. Magelang RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
  11. Keliat. ( 1998 ). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa (terjemahan). Jakarta EGC.
  12. Keliat. ( 2005 ). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa (terjemahan). Jakarta EGC.
  13. Maramis. ( 2005 ). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airl¢ngga University Press.
  14. Nanda. ( 2005 ), Nursing Diagnosis And Definitions and Clarification. Philadhelpia.